Sawarna Dengan Keindahan Dan Keasliannya

Saturday, 26 December 2009 10:25 administrator
Print
View Comments
Kiriman: Akhmad Masun

Ada pepatah mengatakan Indonesia adalah Jamrud Katulistiwa. Tidaklah berlebihan rasanya menggambarkan hal tersebut dengan melihat keindahan dan keaslian Pantai Ciantir, Sawarna, Banten Selatan. Hamparan pasir putihnya yang memanjang sepanjang kurang lebih 5 km dengan lebar sekitar dua puluh lima meter merupakan surga bagi para pencinta wisata pantai.

Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya kami sampai juga di Gerbang Sawarna. Segera saja kami menghubungi Kang Hendi, salah satu penduduk asli dari Desa Sawarna yang akan membantu kami untuk mengatur perjalanan selama di Desa Wisata tersebut. Beberapa saat kemudian lelaki bertopi dan bertubuh sedang memberhentikan mobil kami,”Dalam hati berpikir pastilah ini Kang Hendi,” dan ternyata benar. Wajah-wajah layu mulai tampak segar atas sambutan ramah Sang Tuan Rumah yang nampak apa adanya dan bersahaja.

 

Setelah celingukan kanan kiri,”dimanakah gerangan vilanya, kok sepertinya tidak ada tanda-tanda adanya villa diseputaran tempat kami parkir mobil,”. Rupanya Kang Hendi mengerti tanda tanya diantara kami dan segera saja mengatakan kalau kami mesti jalan ke dalam lagi melewati jembatan gantung yang terlihat di depan kami semua untuk menuju vila. Segera saja kami bergegas melewati jembatan tersebut agar segera sampai di Vila dan segera bermain ke laut. Walaupun jembatan gantung tersebut bergoyang-goyang ketika dilewati namun nampaknya cukup kokoh karena diperkuat oleh kerangka-kerangka besi yang kuat sehingga tidak perlu takut jatuh ke muara sungai yang terletak di bawahnya.

 

Jermbatan Gantung

 

Tak lama kemudian sampailah di vila atau lebih tepatnya rumah penduduk yang disewakan sebagai tempat menginap jika ada tamu-tamu yang mau menginap. Sebuah rumah sederhana terdiri dari tiga kamar yang cukup nyaman untuk ditinggali selama kami menginap di Sawarna. Setelah berbenah dan menata barang-barang, kami semua segera menuju saung yang ada di depan rumah tempat kami menginap untuk segera bersantap siang yang telah disediakan oleh tuan rumah. Menu sederhana yang ada di depan kami betul-betul menggugah selera makan setelah cukup lelah melakukan perjalanan. Ikan layur yang dibakar dan dibumbuin garam, sayur sop segar, tempe goreng, krupuk dipadu dengan sambal tomat betul-betul membuat perut kami menari dan ingin segera melahapnya. Dan tak lama kemudian satu per satu lauk yang ada habis dan yang tersisa adalah nasi putih. Betul-betul nikmat rasanya hidup ini ketika kami semua makan ala kadarnya secara bersama-sama di dalam saung dengan terpaan angina yang sepoi-sepoi.

 

Kami tak mau berlama-lama terbuai oleh makan siang yang disediakan oleh Kang Hendi, segera saja kami beranjak dari tempat duduk masing-masing dan menuju ke pantai. Untuk sampai di Pantai Ciantir kami harus berjalan kurang lebih lima belas menit dengan melewati beberapa rumah penduduk dan persawahan yang ada disekitar situ. Ombak laut mulai terdengar, pasir putih mulai terlihat dan kami segera berlari dan mandi di pantai yang indah tersebut. Pasir putih yang bersih betul-betul memanjakan kami untuk sekedar lari-lari kecil, tiduran di atasnya dan bahkan berguling-guling untuk menyatu dengan alam. Namun sayangnya niat hati untuk mendapatkan view matahari terbenam pudar dikarenakan cuaca yang mendung dan berkabut saat itu. Kami berdoa mudah-mudahan besok pagi bisa mendapatkan pemandangan matahari terbit dan pemandangan laut yang lebih indah dengan sinar mataharinya yang penuh.

 

Pantai Ciantir, Sawarna

 

Walaupun kurang sempurna karena tidak mendapatkan pemandangan sunset, kepuasan akan keindahan Sawarna sore itu tetap terpancar dari hati kami semua. Kembali ke tempat vila kami menginap dengan terseok-seok karena kecapaian, mandi dan segera menantikan santap malam. Dengan menu yang hampir sama dengan makan siang, namun kali ini tumis tauge dan tahu goreng memberikan sensasi rasa yang berbeda dengan sebelumnyadan sama-sama nikmat. Setelah santap malam kami habiskan malam itu untuk bercengkerama dan tukar pikiran dengan kang Hendi tentang Sawarna itu sendiri. Diantara beberapa hal yang kami bicarakan malam itu adalah tentang kebersihan Sawarna, proyek penghijauan yang memang sedang berjalan dan bagaimana menjaga Sawarna tetap asli dan terhindar dari tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab. Setelah sekian lama ngoborl tak terasa jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan kami semua ke tempat peraduan masing-masing mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan petualangan esok hari.

 

Tanpa diberi aba-aba tepat jam lima pagi kami semua sudah bangun dan bersiap-siap mengabadikan matahari terbit di Sawarna. Kali inipun kami kurang beruntung karena cuaca sedikit mendung dan view matahari terbit pun kurang sempurna. Setelah berkeliling di pantai untuk sekedar melihat-lihat kerang laut kami pun segera beranjak ke Tanjung Layar yang lokasinya tidak berjauhan dengan Pantai Ciantir. Kali ini Dewi Fortuna berpihak pada kami karena ketika sampai di Tanjung Layar matahari bersinar penuh dan awan pun menghilang. Sempurnasebuah karang yang berbentuk seperti layar yang terletak agak menjorok ke laut dan berjarak sekitar limapuluh meter dari garis pantai dengan dipisahkan air yang tidak terlalu dalam, paling tinggi hanya seukuran perut orang dewasa.

 

Tanjung Layar

 

Kami bisa bebas berenang di depan Tanjung Layar ini karena ombak laut tertahan oleh gugusan karang yang terletak diseputaran tempat ini. Berendam, berfoto dengan bergaya didepan karang adalah hal yang tidak boleh terlewatkan ketika kita disini. Setelah berpuas diri bermain di Tanjung Layar kami kembali ke Ciantir sebelum akhirnya ke vila tempat kami menginap. Langkah kaki kami di Ciantir terhenti beberapa saat untuk menyaksikan wisman yang sedang bermain surfing. Ya..ombak dengan skala tiga dan empat merupakan tempat terbaik untuk surfing seperti di Sawarna ini.

 

Surfing

 

Masih ada beberapa tempat di Sawarna yang belum kami sambangi seperti Gua Lalai dan Laguna Pari. Namun justru hal itu yang akan menjadikan kami kembali ke Sawarna untuk menyambangi tempat-tempat tersebut. ( By AMGD ).

 

 

Menuju Sawarna :

Dengan mobil pribadi :

Dari arah Jakarta kita masuk tol arah arah Kebon Jeruk-Tangerang dan Keluar di Serang Timur. Ambil arah Pandeglang dan ikutin petunjuk arah Pasar Saketi -Malingping. Dari Malingping kemudian ambil arah Bayah. Lokasi tepatnya adalah : Desa Sawarna, Kecamatan Cikaung, Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak. Total jarak tempuh Jakarta – Sawarna adalah 250 km – one way.

 



blog comments powered by Disqus
back to top
Last Updated ( Saturday, 26 December 2009 10:43 )